Al Quran berkata :
Ingatlah ketika 'Isa putra Maryam berkata, "Wahai Bani Israil! Sesungguhnya aku utusan Allah kepadamu, yang membenarkan kitab (yang turun) sebelumku, yaitu Taurat dan memberi kabar gembira dengan seorang rasul yang akan datang setelahku, yang namanya Ahmad (Muhammad)." [QS AsSaff : 6]
Lantas bagaimana ceritanya sampai Quran mengklaim bahwa alkitab menyebut nama "Ahmad"? Apakah itu karena Alkitab sudah diubah-ubah isinya sehingga kita tidak akan menemukan ayat tersebut?
Hmm soal Taurat dan Injil yang "diubah-ubah", itu ada pada pembahasan yang lain. Tapi begini, Alkitab yang ada pada masa Nabi Muhammad kurang lebih sama isinya dengan Alkitab yang bisa kita akses hari ini. Maka jika Quran mengatakan alkitab menyebut nama Ahmad, seharusnya orang yang membaca Alkitab di masa itu juga akan menemukan bahwa Alkitab menyebut nama Ahmad. Tapi ternyata tydac ada. Apakah Quran asal klaim?
Pada bahasan yang lampau, saya pernah mengulas tentang "Syriac-Peshitta". Dia adalah alkitab pertama yang masuk ke tanah Arab 100 tahun sebelum kelahiran Nabi Muhammad, yang diterjemahkan dari bahasa Yunani ke bahasa Syro-Aramaic.
Singkat cerita, Alkitab PL (Perjanjian Lama) ada beberapa Codex/manuskrip, mulai dari Codex Sinaiticus atau yang lebih dikenal dengan "Dead Sea Scroll" atau naskah laut mati berbahasa Ibrani, "LXX (Septuaginta)" berbahasa Yunani, "Targum" berbahasa Aramaic, hingga "Syriac-Peshitta" berbahasa Syro-Aramaic.
Ketika kita melacak Nama "Muhammad" di Dalam Alkitab Septuaginta, Targum, maupun Syriac-Peshitta, tidak ada satupun yang memuat nama Ahmad. Begitupun kalau kita cek Alkitab berbahasa Inggris atau Indonesia sekarang, tidak akan ditemukan. Namun ada 1 ayat di dalam Alkitab yang diklaim orang Islam sebagai kebenaran klaim Quran. Yakni di kitab Yohannes 15 ayat 26. Disana terdapat kata "Faraqleta" dari bahasa Yunani "Parakletos" yang artinya "Penghibur".
Apa nyambungnya "Penghibur" dengan "Ahmad"?
Ngga nyambung emang. Kemarin kita juga membahas kekeliruan dalam proses penerjemahan Alkitab. Seperti halnya Abraham yang dikeluarkan Tuhan dari Mei-Ur (Negeri Ur) dianggap Me-or (Api). Pada kasus "Ahmad" ini juga ada kemungkinan kekeliruan.
Di abad pertengahan, disaat perdebatan teologis cukup sengit, sebagian kalangan muslim membuka kembali dokumen2 silam. Mufassir seperti Maqatil Ibn Sulayman mengutip Syriac-Peshitta apa adanya.
Namun beda halnya dengan Al Qurthubi, Al Razi dan Ibn Hisyam.
Kita mulai dari Al Qurthubi dulu. Beliau dalam tafsir Al Qurthubi mengubah "Parakletos" dalam Alkitab LXX Septuaginta menjadi "Periklytos" yang berarti "sang Terpuji". Sedangkan dalam bahasa Arab, terpuji itu artinya "Ahmad" atau "Muhammad". Oleh sebab itu, maka klaim Quran dalam surat As Saff tadi menjadi relevan, bahwa Alkitab menyebut nama "Ahmad" yang diambil dari bahasa Yunani "Periklytos".
Sedangkan Ibn Hisyam, dalam kitab sirahnya ia mengutip Kitab Yohannes dari Syriac-Peshitta, namun ia mengganti kata "Faraqleta" dari manuskrip aslinya menjadi "Al Menahhemena" atau "Al Manahmana". Dalam bahasa Ibrani atau Aramic, (n-h-m/naham) artinya juga "penghibur". Jadi sebetulnya mengganti terjemahan "Parakletos" menjadi "Al Menahhemena" tidak salah secara linguistik.
Nah kemudian Ibn Hisyam mengatakan bahwa "Al Menahhemena" itu adalah "Muhammad" karena ada sedikit kemiripan fonetik. Secara arti/makna, keduanya tidak sama. Penghibur vs Terpuji.
Begitulah kurang lebih hal yang dipahami para ulama klasik Islam, Ibn Hisyam (abad 4 H), Al Razi & Al Qurthubi (abad 6-7 H). Jadi nomenklatur "Ahmad" atau "Muhammad" itu bukan didapat dari script asli Alkitab, melainkan interpretasi atas terjemahan Alkitab ke bahasa yang bisa dipahami orang dari rumpun bahasa Arab. Hanya saja kita akan kesulitan melacak apa yang dipahami orang Arab di abad pertama kelahiran Islam. Apakah mereka memahami hal yang sama dengan ulama abad pertengahan?
Maka kita juga akan kesulitan melacak bagaimana latar belakangnya sehingga Quran mengklaim bahwa Alkitab menyebut nama "Ahmad" secara nomenklatur. Kalau merujuk sebagaimana yang dipahami ulama pertengahan, maka kemungkinan ada kesalahan dalam memahami terjemahan alkitab karena alkitab dalam manuskrip kanonik yang berasal dari abad 5 Masehi tidak memuat nama "Ahmad".
Kemungkinan lainnya, bisa saja memang benar di sebuah kitab injil disebutkan nama "Ahmad", namun itu tidak digolongkan sebagai injil kanonik, alias "Apokrif" ; injil "dhaif" atau "maudhu". Tapi kalau dari Taurat, yaa mohon maaf, sepertinya sulit dicari kemungkinan lainnya.
-ChikYen-


Komentar
Posting Komentar