Kita Ngomongin Menkeu Koboy, Purbaya

Purbaya kini jadi menteri paling disorot. Betapa tidak, sejak hari pertama sudah blunder dalam komunikasi publik. Sampai saya salah mengidentifikasi, saya kira abang-abang ini pendekatannya koorporasi.

Purbaya membuat perbedaan mencolok dengan menkeu sebelumnya, mbak sri. Sampai-sampai beliau dijuluki "Menteri Koboy" karena gaya ngomong yang blak-blakan. Purbaya ternyata lebih populis dan pro rakyat. Salah satunya saat Purbaya kucurkan duit 200T ke 5 bank Himbara untuk kredit rakyat.

Apa dampak liquiditas 200T ini?

Dengan mekanisme FRB (Fractional Reserve Banking), duit 200T ini bisa digandakan mendekati 10x lipat di M2. Dengan catatan, kreditur memarkir sebagian besar uang yang dipinjam di rekening. Tapi di lapangan angka sebesar itu sulit terwujud karena kredit akan dibelanjakan, diputer. Analis keuangan pro Purbaya menilai, investasi 200T ini bakal nyuntik pertumbuhan ekonomi hingga 1.300T dalam 2 tahun, artinya tumbuh 650%. Tapi angka itu bukan keluar dari statement Purbaya sendiri.

...

Apakah langkah Purbaya ini sudah benar? 

Bener atau salah tergantung pelaksanannya. 

Pertama, pastikan kredit ini terserap di sektor swasta. Jangan sampai kredit ini lebih banyak biayain proyek-proyek penunjang program pemerintah cem MBG atau Koperasi Merah Putih. Karena program-program ultra populis ini khas Prabowo banget. Kalo dia cuma 1 periode, bakal pailit kabeh itu usaha. Kalau program-program ini gagal, jangan-jangan di era Prabowo sendiri semua ini distop. Bank pasti gamau ambil risiko kalau diperintah kucurin kredit buat proyek-proyek itu, kecuali ada jaminan bailout.

Hal yang perlu diperhatikan : dengan kucuran dana sebesar itu, secara kausalitas ekonomi akan terjadi penurunan suku bunga, karena 5 bank tadi akan berlomba menawarkan kredit. Disini problemnya. Misalnya Bank Mandiri punya duit liquid sekitar 2.300T buat digelontorin sebagai kredit. Itu aja udah setengah mati mereka kejar target. Ehh ini malah ditambahin lagi 55T. Nanti kalau bank gagal mencapai target dibilang "males-malesan". Ckck.

Isyu lainnya ; fakta menunjukkan terjadi divergensi antara nilai tukar dan IHSG, dimana USD to IDR tertekan 0,95% sejak 25 September, sedangkan IHSG naik 2,61% sejak periode yang sama. Seharusnya kalau IHSG menguat maka akan diiringi dengan penguatan kurs juga dong. Tapi yang terjadi malah sebaliknya. Artinya pembelian IHSG ini terjadi lokal, bukan karena dolar masuk. Lha kok bisa? Padahal indikator konsumsi rakyat turun, tabungan rakyat turun, omzet pegadaian meningkat, yang terlibat pinjol makin tinggi. Duit darimana? Takutnya, ini hasil dari kredit 200T tadi. Bukannya diputerin di kredit mikro, malah muter di elit dan dipake beli saham, hanya demi tidak diomelin sama menkeu, yang penting duit terserap..

Hal kedua yang perlu diperhatikan : program2 populis pemerintah ini akan menghambat FDI (Foreign Direct Investment). Buat negara berkembang kek kita, FDI ini penting banget sih, karena selain ada uang masuk, ada penyerapan tenaga kerja dan transfer knowledge. Harapannya bisa mendongkrak IPM.

"Mampukah Purbaya menggenjot GDP Growth ke 6-7% seperti janjinya, atau 8% seperti janji Prabowo?"

Posisi sekarang, GDP kita ada di US$ 1,43T, atau Rp 23.723T. Purbaya mau naikin minimal sampai 25,3T. Butuh naik Rp 1,600T tahun ini.

Komponen GDP itu sederhana : C+I+G+(X-M). C itu consumption, I itu Investment, G itu Government spending, E itu Export, M itu Import... Yang Purbaya usahakan adalah menggenjot sektor C dengan kredit mikro yang entah bagaimana returnnya kepada GDP. Lalu gimana dengan komponen G dan I? Di kuartal 2 aja serapan pajak kita turun 6,21%. Darimana pemerintah punya duit belanja? Bagaimana dengan I? Ya kita lihat gimana strategi Purbaya buat naikin Investasi. Menambah investasi gabisa cuma dengan perubahan fiskal dan moneter. Tapi ekosistem ekonominya kudu dirombak total, utamanya soal kepastian hukum dagang.

Denger-denger entah dari podcast mana, Prabowo mau nambah utang baru sekitar 1.400 T sd 1.600T (walaupun di berita resmi baru keluar angka 781T). Nah ini hati-hati loh. Angka tsb punya dua makna. Pertama, fiskal kita defisitnya makin gede, diatas 3% GDP, yaa up to 6% lah. Kedepan, fiskal kita bakal makin terkuras buat bayarin utang pokok + bunga, mau gamau pajak-pajak bakal makin naik. Kalau bener 781T, ya masih dalam threshold aman secara UU, bisa dibawah 3%.

Kemudian, angka tsb bakal masuk ke komponen G (Government Spending) karena akan dibelanjakan. Karena ngapain pinjem duit kalo didiemin? Artinya utang itu akan masuk pencatatan juga dalam kenaikan GDP. Dampaknya apa? Nanti tiba-tiba di akhir tahun Prabowo klaim "Alchamdulillach, pertumbuhan ekonomi kita tercapai hingga 8% tahun ini"... PREETTT!!! Awas kena tiputipu.. Kemaren aja tiba2 BPS rilis pertumbuhan kita 5,12%. Entah angka ajaib darimana itu wkwk..

Kemudian (X-M). Tahun 2024 total ekspor kita sekitar US$264,7B atau Rp4.300T disaat impor $235,2B. Jadi ada surplus hampir $10B. Sedangkan ekspor ke US sekitar 10%, di $26,53B atau Rp430T. Dengan polemik perang tarif kemarin, Indonesia dikenakan cukai 19% sedangkan produk US dikenakan 0% masuk ke Indo. Ini akan menurunkan ekspor ke US dan menaikkan impor dari US. Sudah pasti ekspor juga turun, tinggal gimana caranya nurunin impor disaat cukai barang masuk Amrik 0%. Yaa sejauh ini sih masih surplus $30B. Lihat aja akhir tahun nanti gimana.

Selanjutnya soal isyu menaikkan bunga deposito US$ ke 4% disaat bunga deposito IDR cuma 3%. Ini berpotensi menciptakan Capital Flight dimana orang berbondong-bondong beli dolar, itu bikin IDR makin lemah terhadap USD. Purbaya menampik bahwa itu bukan kebijakan dia. Tapi di satu sisi dia mengakui ingin menarik duit orang-orang yang diparkir di luar negeri "mending beli dolar di bank-bank dalam negeri aja". Menampik tapi in action dia selaras dengan isyu tadi. Ckck...

....

Apa ada kesimpulan soal Purbaya?

Dua hal...

Pertama, Purbaya cukup menarik karena dia menampilkan wajah baru dari trend pejabat Menkeu yang "Parlente". Walaupun ekonom seperti Fery Latuhihin melabeli ekonomi Purbaya dengan sebutan "Koplak-Nomics", saya kira gebrakan Purbaya ini patut dinantikan. Mungkin masih banyak ide-ide out of the box dari beliau.. Kayaknya pak Pur ini waktu mahasiswa baca Karl Marx wkwk...

Kedua, saya tetap skeptis dengan apapun yang dilakukan Purbaya. Memang ada bagusnya karena ngga melulu mikirin makro, mendukung kenaikan GDP berkualitas. Tapi celahnya banyak, dan berpotensi jadi bumerang. Bisa bikin ekonomi makin parah. Kalau lihatnya pakai kacamata ekonomi, ya bisa dibilang Purbaya ini "Sontoloyo".

Makanya, di awal Purbaya harus membuat grand desain ekonomi dia, bukan cuma nampilin chart-chart presentasi dan celetuk2an koboy. Selanjutnya, baru pastiin pelaksanaannya, dan pikirin exit plan dari efek samping yang muncul akibat kebijakannya. Ya karena ga ada kebijakan yang menguntungkan semua pihak.

ChikYen...

Komentar