Israk Mikraj dan Perintah Solat

"Maha Suci (Allah), yang telah memperjalankan hamba-Nya pada malam hari dari Masjidilharam ke Masjidilaqsa yang telah Kami berkahi sekelilingnya agar Kami perlihatkan kepadanya sebagian tanda-tanda (kebesaran) Kami."

Kita selalu dapet dongeng bahwa Nabi itu terbang ke langit untuk secara eksklusif menerima perintah solat. Setelah bertemu para nabi, terbang ke masa depan, pergi ke surga neraka, konon di part akhir ada negosiasiasi dengan tuhan tentang jumlahnya. 

Namun ternyata kisah itu sama sekali tidak dimuat oleh Al Quran. Quran hanya menceritakan perjalanan seorang hamba dari Masjidil Haram ke Masjidil Aqsa. Tidak menyebutkan nama daerah/kota. Tidak menyebutkan siapa yang berangkat. Tidak juga menyebutkan perjalanan ke langit. Apalagi naik buraq. Kisah detil tentang perjalanan ke langit bisa secara lengkap kita simak di hadits. Termasuk soal buraq (barq/kilat), seekor kuda poni warna putih. Komunitas Islam di persia dan hindustan kemudian memvisualisasi buraq itu bersayap dan berwajah wanita, sebagai ekspresi karya seni.

Saya kira seluruh komunitas muslim sepakat bahwa Israk Mikraj merupakan peristiwa perjalanan fisik nabi Muhammad ke langit. Tapi beberapa tahun silam saya menyimak beberapa ceramah, konon para ulama sendiri belum semuanya sepakat perjalanan nabi ini melibatkan fisik atau jiwanya saja.

Di era modern, kita kenal yang namanya "Astral Projection". Fisik kita diam di suatu tempat, tapi jiwa kita berkelana kesana kemari. Dulu saya juga pernah melakukan eksperimen terkait Lucid Dream dan Astral Projection ini. Secara fisika, agak sulit dirasionalisasi bagaimana kita bisa bergerak dengan kecepatan yang lebih tinggi dari kecepatan cahaya. Sebelum kecepatan cahaya saja kita bisa mati, badan akan melepuh karena gesekan dengan partikel udara. Itu hal yang mustahil terjadi. Kalau bilang "atas kuasa Allah, kun fayakun" yaudah kelar tuh gaada diskusi. Namun beda halnya dengan jiwa. Jiwa mungkin saja tidak terikat dengan dimensi. Jiwa kita bisa berpindah dari satu tempat ke tempat lain dengan kecepatan yang tidak bisa kita bayangkan.

Selanjutnya terkait perintah solat. Katanya disitu ada dialog nabi muhammad dengan nabi2m-nabi sebelumnya. Ada yang ummatnya solat 40x sehari dsb. Tapi herannya di alkitab kita tidak akan temukan kata "salat". Kalau "sembahyang" sih ada. Namun apakah sembahyang ummat nabi-nabi bani israel sama dengan solatnya ummat nabi muhammad? Tidak tahu juga. Tapi saat sembahyang, mereka membaca doa-doa mazmur dan doa nabi-nabi di alkitab.

Jangankan mencaritahu cara sembahyang ummat pengikut alkitab, mencaritahu cara solat di quran saja tidak bakalan ketemu. Tapi yang jelas, yang solat seperti ummat islam ya hanya ummat islam. Orang kristen hanya konser di gereja tiap weekend. Orang yahudi sibuk ngomong sama tembok sambil nangis-nangis.

Jadi, penjabaran di hadits soal negosiasi waktu solat ini agak absurd juga. Karena tidak terkonfirmasi dengan kitab-kitab sebelum Quran. Alkitab sendiri menyebutkan orang-orang sembahyang di waktu pagi dan waktu-waktu tertentu, ga ada yang sampe 10 hingga 40 waktu. Ga beda jauh sama Al Quran yang nyebut solat pagi & petang, wustha, tahajjud, dsb.

ChikYen...

Komentar