Apa yang Terjadi Saat Israk Mikraj?

Quran hanya menceritakan kejadian Israk dari masjidil haram ke aqsa. Ga bilang masjidil haramnya ada dimana, aqsa ada dimana. Gabilang itu perjalanannya siapa, apakah perjalanan nabi muhammad atau quran hanya me-recall peristiwa yang terjadi jaman dulu.

Sedangkan mikraj tidak pernah disebutkan quran. Termasuk perintah solat di peristiwa tersebut. Kisah ini malah mirip kisah Arda Viraf (Zoroaster/Majusi/Persia) yang pergi ke langit untuk mendapat perintah suci Ahura Mazda. Temuan ini menjadikan kontroversi, kisah siapa yang lebih dulu ditulis? Karena kedua dokumentasi kisah terbang ke langit antara Islam dan Zoroaster muncul di periode yang hampir sama.

Dari kisah yang kita dengar, ada 3 peristiwa penting dalam mikraj.

Pertama, nabi terbang ke masalalu. Disana nabi bertemu para nabi ulul azmi yang curhat mengenai kewajiban kaumnya.

Kedua, nabi terbang ke masadepan. Nabi menyaksikan masa depan hingga hari kiamat. Makanya banyak muncul hadits akhir zaman. Ga cuma disitu, nabi diajak melihat surga dan neraka.

Ketiga, dan yang paling utama, nabi bertemu Allah untuk menerima perintah solat. Disana terjadi negosiasi sampai akhirnya cuma wajib solat 5 waktu per hari.

Peristiwa israk mikraj ini terjadi di tahun ke-10 kenabian (saat di mekkah), beberapa bulan setelah wafatnya khadijah. Saat itu nabi sudah menikah lagi dengan Saudah (janda), tapi malah tidur di rumah sepupunya yang juga cinta lamanya, Ummu Hani, yang saat itu berstatus janda 4 anak. Saat bermalam di rumah perempuan yang bukan mahram ini, ternyaya turun kuasa illahi. Terjadilah peristiwa israk dan mikraj dalam waktu semalam. Luarbiasa ya, tidur di rumah janda non mahram yang berpotensi CLBK, bukannya dapet penghukuman karena pelanggaran moral, eh malah Tuhan menurunkan perintah yang paling sakral di peristiwa itu... Solat.

Oke, kita skip skandal barusan. Balik ke topik, Kita sebetulnya punya problem serius dengan kronologi diatas. 

Pertama, nabi pergi ke masalalu, bercakap-cakap dengan para nabi ulul azmi soal syariat solat di zamannya masing-masing. Sedangkan alkitab sama sekali tidak mencatat syariat bernama solat. Ya benar bahwa alkitab menceritakan ritual ibadah. Benar pula bahwa kaum Yahudi memiliki kiblat sebagai arah untuk mereka menghadap saat berdoa, yang kiblat itu sekaligus menjadi kiblat pertama nabi dan pengikutnya saat solat. Tapi ibadah mereka bukan solat bersedekap seperti yang dilakukan muslim saat ini.

Kedua, soal terbang ke masa depan. Bagaimana kita bisa percaya bahwa nabi terbang ke masa depan, hingga melihat terjadinya hari kiamat. Akan tetapi, nabi bahkan tidak tahu peristiwa apa di masa depan yang akan ia lalui? Setelah mikraj, nabi melakukan hijrah. Nabi coba-coba. Pertama coba hijrah ke etiopia. Kedua ke thaif. Sampai akhirnya ketemulah Yatsrib. Pertanyaannya, kok nabi gatau ya bahwa di masa depan dia akan hijrah ke madinah? Bukankah beliau habis pulang dari masa depan dan menyaksikan semuannya.

Selanjutnya soal perang Badr. Ada satu momen menarik yang saya capture, yakni ketika nabi berdoa "Ya Allah, jika kami kalah di Badr, siapakah yang akan menyembahmu di esok hari?". Apakah nabi tidak tahu bahwa dia akan menang di perang Badr? Bahwa ribuan malaikat akan turun membantu pasukannya? Begitupun dengan perang lainnya.

Selanjutnya soal Futuh Mekkah. Quran sendiri mengonfirmasi bahwa nabi tidak tahu kelak akan menaklukkan Mekkah. Nabi baru berangkat ke Mekkah setelah turun firman Allah yang mengatakan ia akan tiba di mekkah dengan selamat.

Tidak ada satupun kejadian masadepan yang diketahui nabi berkaitan dengan nasibnya sendiri, termasuk bahwa ia akan diracuni di Khaibar. Lalu bagaimana bisa kita percaya bahwa nabi pergi ke masa depan dan menyaksikan segalanya? Sehingga kita mengamini hujjah sang Nabi akan ciri-ciri kiamat?

Kita fair aja. Quran sedikitpun tidak menceritakan peristiwa mikraj, buraq hingga perintah solat di momen tsb. Tapi kita punya segudang kronologi tentang mikrajnya nabi serta hadits-hadits akhir zaman hingga surga neraka yang katanya dasarnya adalah pengalaman yang disaksikan nabi saat mikraj. Lalu bagaimana cara kita memvalidasinya?

Anda mungkin tersinggung dengan statement ini. Tapi faktanya memang tak pernah disebutkan oleh Quran soal peristiwa mikraj.

Hadits? Memvalidasinya juga susah. Semua hadits akhir zaman ini hadits ahad, yang mendengarkan hanya 1-2 orang. Sudah begitu banyak juga yang dikategorikan dhaif bahkan palsu. Masuk akal jika ada yang bilang hadits-hadits ini baru dibuat belakangan, entah oleh para imam hadits atau orang-orang sebelumnya. Kebetulan 6 imam hadits yang jadi rujukan utama semuanya orang Persia yang kenal betul dengan dongeng Arda Viraf bertemu Ahura Mazda.

Akulturasi Budaya

Sama halnya seperti di kristen. Di kitab lukas diceritakan bahwa Yesus lahir di tempat gembala domba. Domba2 tidak digembalakan di musim dingin. Lantas kenapa Yesus dianggap lahir tanggal 25 desember?

Penentuan lahirnya Yesus adalah keputusan gereja ketika kristen sudah mulai menyebar luas di Romawi (abad 4). Sebelumnya Romawi menyembah dewa jupiter. Romawi punya kepercayaan matahari lahir di tanggal 25 desember. Maka kemudian Yesus ditetapkan lahir tanggal tsb.

Mikraj mungkin saja tidak pernah terjadi pada nabi muhammad, sebagaimana Quran tidak pernah memberitakan mikraj maupun solat 5 waktu. Namun ketika islam tumbuh pesat di persia mungkin kisah tentang Arda Viraf ini dilekatkan ke nabi muhammad supaya mudah menarik atensi masyarakat persia agar masuk islam.

Cek saja sendiri. Di Quran ga ada namanya solat "Subuh, Dzhuhur, Ashar, Maghrib". Katanya solat kewajiban paling utama. Tapi ga ada sama sekali perintah solat 5 waktu di Quran. Quran malah menyebut nomenklatur solat yang minor ; "fajr, wustha, tahajjud". Itu gimana sih konsepnya?


ChikYen

Komentar