Perlukan Metode Sanad Dipertahankan?

Gambar : Ceramah Youtube Buya Syakur Yasin, M.A.

Ilmu sanad lahir karena keterbatasan para ulama hadits mengakses informasi. Jarak mereka pada nabi terlampau jauh, sekitar 200 tahun, dan mereka tidak mendapati hadits tertulis dalam lembaran lembaran sedangkan dalam mengelola kejamaahan diperlukan dalil dalil sebagai landasannya.

Disamping itu ada banyak sekali berseliweran perkataan mengatas namakan nabi demi keuntungan pribadi atau sekelompok orang. Maka tercetuslah ide membuat ilmu sanad dalam satu bingkai ilmu musthalah hadits untuk melakukan penelusuran. 

Dengan metode seperti itu, Bukhari berhasil menyeleksi hadits dari 600ribu jadi tinggal 14ribu hadits shahih saja. Ketat sekali standar yang digunakan Bukhari dan tim penelitinya kala itu. Maka Bukhari menyusun hadits yang dikumpulkannya dalam satu kitab Shahih Bukhari.

"Pertanyaanya, apakah hadits yang diseleksi Bukhari pasti benar?"

Tentu tidak. Kita bayangkan saja, dengan jarak 200 tahun dan keterbatasan bukti otentik berupa nash peninggalan zaman nabi, akan sulit memastikan kebenaran data yang dikumpulkan. Potensi salah tentu sangat terbuka lebar. 

"Lalu bagaimana metode sanad yang Bukhari lakukan?"

Yakni dengan tinjauan pustaka dan dengan melakukan survey. Bukhari mewawancara beberapa narasumber yang kiranya bisa dijadikan rujukan untuk mendapat petunjuk.  Inilah kemudian yang disebut imu "Musthalah Hadits". Strukturnya diantaranya terdiri dari tiga unsur ;

1. Matan (bukan mantan)

Bukhari memulai dari "matan" haditsnya, bagaimana sih bunyi hadits tersebut. 

2. Sanad

Dari siapa saja jalur hadits ini terdistribusi? Apakah ada hadits serupa dari jalur perawi lainnya? Apakah bunyi matannya sama?

3. Rawi

Kemudian diteliti subjek2 penyalur distribusi hadits tersebut. Siapa saja mereka? Bagaimanakah kondisi orang tersebut? Apakah dia jujur? Apakah dia pernah berdusta? Apakah dia termasuk orang yang hafalannya tsiqah?

Darimana Bukhari dan tim peneliti hadits mengumpulkan semua informasi itu? Caranya cuma satu, dari testimoni para narasumber penyampai hadits tersebut. Maka ilmu sanad bisa kita sebut "ilmu ceunah", alias "ilmu katanya katanya katanya"... Maka dalam struktur hadits pasti diawali dengan sanad dan rawi, "telah berkata fulan, dari fulan bin fulan, fulan menyampaikan bahwa Rasul berkata..................." baru deh masuk ke matan atau isi haditsnya. Mau dibikin serumit apapun juga tetap saja tidak bisa membuktikan keabsahan hadits hadits tersebut. 

"Mengapa demikian?"

Coba saja anda simulasikan game pesan berantai. Penyampai pertama sampai terakhir isi pesannya bisa beda loh. Itu karena keterbatasan penyampai ke-n (Xn) dalam mengakses informasi yang diberikan penyampai pertama (Xo) kepada orang yang diberikan informasi (Xn + 1). Maka mereka hanya bisa mengandalkan estafet informasi dari penyampai pesan sebelumnya tanpa bisa mengakses informasi pertama (Xo), percis seperti game pesan berantai.

Kutipan teks ceramah Buya Syakur Yasin, M.A.

Akan tetapi, metode sanad dalam pengumpulan hadits yang dilakukan Bukhari adalah metode terbaik kala itu ditengah berbagai keterbatasan yang telah dipaparkan sebelumnya. Terlebih lagi Bukhari orang Uzbekistan. Meneliti hadits di Iraq. Data primer yang diteliti berasal dari Arab. Tentu tidak mudah. Apalagi tidak ada kendaraan bermotor, tidak ada pesawat, tidak ada telepon seluler, apalagi internet. 

Pun juga dalam pencatatannya, dulu tidak ada komputer. Tidak ada hardisk sekian tera yang bisa masuk ke saku celana anda. Teknologi pembuat kertas kala itupun belum sebagus sekarang. Kertas zaman dulu tebal tebal. 

Maka saya katakan, walaupun potensi salah sangat terbuka lebar, khusus untuk hadits, metode sanad dan ilmu musthalah hadits adalah metode terbaik yang bisa dilakukan.

Nah. Jadi punten kalau ada yang secara membabi buta bilang Shahih Bukhari itu kitab tershahih ke-2 setelah Quran dan tidak boleh dibantah keabsahannya, saya harus katakan, metode sanad bukan metode terbaik dalam melakukan penelitian. Bahkan potensi erornya terbuka selebar itu. 

Belum ditambah faktor sospol yang terjadi di periode khulafaur rasyidin, dinasti umayyah hingga abbasiyah. Bagaimana ketika itu banyak ulama dipersekusi, dibunuh atau dipenjarakan oleh khalifah karena berbeda pandangan politik. Belum lagi banyak ulama yang "dibeli" oleh kerajaan lalu diberi fasilitas mewah. Sebut saja Abu Hurrairah RA. Sejak zaman nabi, ybs hidup melarat. Makan dari sisa sampah. Ketika pindah ke syam bersama Muawiyah, hidupnya sejahtera. Kisah tersebut jadi menimbulkan pertanyaan apakah Abu Hurrairah independen dalam menulis hadits? Apakah ia bebas dari kepentingan penguasa? Sedangkan Abu Hurrairah sendiri menjadi penyalur hadits terbanyak dalam Shahih Bukhari, lebih dari 2ribu hadits. Jumlah itu jauh melebihi hadits yang dikumpulkan para khulafaur rasyidin plus isteri2 nabi.

...

Belajar Agama dengan Sanad

Hari ini banyak pihak yang berkata kalau belajar itu harus bersanad. Harus dari guru2 yang runut sampai ke Rasulullah. Kalau tidak nanti akan sesat. Bahkan ada seorang kawan saya, saking fanatiknya dia dengan ilmu sanad, mau belajar bisnispun dia harus bersanad. Harus dari orang yang terbukti sukses berbisnis. Padahal, orang yang dia ikuti saja tidak jelas sanadnya darimana... wkwk.

Bukan cuma dalam belajar. Adzan Bilal saja konon ada sanadnya, tersambung sampai Bilal bin Rabbah RA. Bahkan ada sertifikatnya. Sehingga kita masih bisa mendengar adzan Bilal sampai dengan sekarang... wkwk. 

Bahlul sekali orang2 itu. Sudah bisa dipastikan itu hoax. Pertama, ilmu sanad baru ditemukan 200 tahun setelah nabi wafat. Itupun baru dipraktikkan dalam ilmu hadits saja. Selama 200 tahun itu, siapa yang mewarisi sanad adzan Bilal?

Kedua, kalau tidak salah, adzan Bilal yang beredar di Youtube itu bernada Sika atau Shaba. Coba deh cek, kapan langgam Sika maupun Shaba diciptakan? Semua itu baru diciptakan setelah tahun 1000 masehi, di akhir era kepemimpinan Bani Abbas... Kasihan ya banyak yang percaya sama ginian... ckck...

Nah, problem kita sekarang, kita harus menjawab, 

"Apakah metode ilmu sanad masih perlu dipertahankan? Apakah belajar agama itu harus bersanad?"

Kalau saya akan menjawab "TIDAK PERLU". Untuk apalagi sanad? Bukhari, Muslim, Abu Dawud dkk sudah menyusun hadits kedalam buku buku yang bisa kita akses hari ini. Tinggal kita pakai. Pun dengan ilmu lainnya, akses informasi hari ini sudah sangat baik, tidak seperti zaman Bukhari dulu. Kalaulah banyak hoax beredar, yang kita lakukan cukup dengan pendekatan metode penelusuran daftar pustaka serta mengakses informasi dari sumber2 resmi lainnya.

"Perlukah guru?"

Tergantung. Seberapa serius anda mendalami ilmu tersebut. Kalau mau mendalam tentu anda perlu guru. Kalau sekedar "ingin tau" atau untuk keperluan diskusi, penelusuran autodidak juga tidak masalah selama merujuk ke daftar pustaka yang jelas. Kalaupun tidak merujuk pada daftar pustaka juga tidak mengapa, toh anda tidak bakal jadi spesialis disitu kan? Misal, orang di warung kopi aja boleh ngomongin politik dan tata negara. Mereka saja tidak dituntut untuk belajar dulu ke yang ahli. Karena mereka memang tidak akan jadi spesialis disitu. Kalau mau ngomong apa saja juga bebas. Salahpun tak mengapa. Asal tidak mengganggu ketertiban umum saja.

"Perlukah guru bersanad sampai ke Rasulullah?"

Terus terang saya ragu apakah ada sanad pendidikan yang pasti tersambung ke Rasulullah? Untuk hadits dari Rasul saja potensi erornya tinggi. Apalagi jalur pendidikannya. 

Metode sanad itu seperti pola silsilah yang ada di kitab bibble. Apakah silsilah di bibble bisa kita percaya? Saya juga tidak tahu. Pun dengan silsilah para habaib. Siapa yang bisa pastikan silsilah dia sampai ke Rasul? Tidak ada yang bisa mengetahuinya. Jarak mereka terbentang 1.500 tahun, lintas puluhan generasi. Mereka sendiri hanya tau dari pendahulu2nya. Lalu bagaimana kalau pendahulunya berdusta? Siapa yang bisa pastikan? Tidak ada.

Dan yang saya perhatikan, ilmu sanad ini malah menjadi "arogansi" sekte keagamaan untuk melegitimasi "kebenaran" kelompoknya, bahwa kelompoknya memiliki sanad yang tersambung sampai Rasulullah. Padahal klaim itu sangat diragukan kebenarannya.

Saya ingin bertanya kepada kaum pemuja sanad, memangnya tidak boleh ya misalnya saya berada diluar kelompok anda lalu saya mengutip ilmu dari ulama anda? Kok kaku sekali ya cara berpikirnya? Itulah kenapa ada banyak sekali sekte keagamaan, percis seperti prediksi nabi tentang akhir zaman. Gamau saling guyub karena kedengkian satu sama lain, percis seperti pesan Quran. Karena orang orangnya fanatik buta, ngga bisa nyusun abstraksi di kepalanya, ngga bisa nerima term diluar dogma kelompoknya. Mari kita letakkan ego sektarian dan menuju pada tujuan yang lebih tinggi sebagaimana amanat Quran!

Maka carilah guru yang mana saja. Yang penting dia mengajarkanmu Quran, sumber primer ilmu agama islam. Kalau anda perlu spesialisasi pendidikan, maka bergurulah ke lembaga2 resmi, yang para pendidiknya sudah melalui tahapan seleksi standar kualifikasi. Dan lembaga pendidikannya sendiri diakui kredibilitasnya. Karena disitu anda akan diajarkan metode belajar dengan standar yang benar, bagaimana cara anda memilah informasi dsb. Maka tidak perlu guru bersanad.

"Apakah si Tejay ngerasa paling benar? Berani sekali dia mengkritik pakem yang sudah ada dan dipakai semua orang yang jelas ilmumya lebih hebat dari dia"

Kalau anda berasumsi demikian, terserah anda saja. Saya tidak pernah merasa paling berilmu apalagi merasa paling benar. Tapi tipikal orang kayak saya memang suka membongkar pakem yang sudah ada jika menurut saya terdapat kekeliruan cara berpikir akan suatu hal di dalamnya. Harapan saya, anda yang membacapun meninjau kembali apa apa yang anda yakini supaya pemikirannya balance, tidak cuma dijejali dengan dogma semata, kemudian dengan seenak jidat mencerca orang yang membawa term yang berbeda dari apa apa yang anda yakini sebelumnya.

Saya memang tidak punya ilmu yang mumpuni. Tapi saya punya misi kekuasaan berlandaskan ideologi Allah-ism. Dan misi inipun tidak perlu didapat dengan metode sanad dan silsilah, walaupun sebagian orang menganut metode washilah bahwa risalah itu tersambung lewat benang merah secara estafeta ke Rasulullah. Hal itu tidak masuk dalam term saya karena mencari benang merah washilah itu hampir mustahil dan mungkin tidak akan ada. Ilmu saja belum tentu tersambung. Apalagi lembaga risalahnya. Maka saya cenderung menganut teori "bi'tsah", teori kebangkitan dalam risalah, karena Quranpun menyatakan demikian.

ChikYen...

(Sekian)...

Komentar