Hierarki Politik

Kalau ngomongin politik, begini hierarki bahasannya ;

1. Filsafat Kekuasaan

2. Ideologi

3. Bentuk Kekuasaan

4. Sistem Politik

5. Struktur Politik

6. Kontestasi Politik

7. Policy / Kebijakan Politik


1. Filsafat Kekuasaan.

Disini kita membahas abstraksi tentang alasan manusia berkumpul lalu membentuk kekuasaan.

2. Ideologi.

Disini kita membahas hal apa yang dijadikan spirit bagi manusia untuk bersatu dalam kekuasaan. Apakah sama ras, sama agama, sama teritori, sama hobi?

3. Bentuk Kekuasaan.

Disini kita membahas kekuasaan ini diwujudkan dalam bentuk apa? Apakah kerajaan, negara atau cyber state?

4. Sistem Politik.

Disini kita membahas sistem politik apa yang dipakai untuk mengelola kekuasaan tersebut. Misalnya, Indonesia memakai demokrasi. Bahwa demokrasi kita menganut sistem pemilihan langsung. Kekuasaan dibatasi 2 periode.

5. Struktur Politik.

Disini kita membahas unsur pembangun politik di sebuah sistem kekuasaan. Misal Indonesia ditopang oleh multi-partai politik yang lolos threshold 4%. Hanya partai politik yang punya wewenang untuk menentukan arah kekuasaan, boleh mencalonkan presiden.

6. Kontestasi Politik.

Disini kita berbicara tentang suksesi kekuasaan dalam sistem politik yang sudah disepakati. Misalnya pemilu presiden 5 tahunan. Juga pemilu legislatif.

7. Policy / Ketidakbijakan Politik

Disini kita membahas ketidakbijakan yang dilakukan pemerintah ketika dia menjabat. Misalnya ketidakbijakan penyusunan anggaran, ketidakbijakan pindah ibukota, ketidakbijakan pencabutan subsidi, dll. Ketidakbijakan pemerintah ini biasanya akan berdampak langsung di akar rumput.

.....

Ada dimanakah level pembicaraan anda selama ini?

Bagi anda yang kedapatan menyimak tulisan2 saya soal politik, mungkin sebagian besar akan mencemooh lantaran saya kerap mengeluarkan premis2 yang bertentangan dengan pandangan mainstream. Mungkin anda akan berkata "si sok ngerasa paling bener".

Saya terangkan.

Yang sebenarnya terjadi, selama ini kita membicarakan politik pada unsur yang berbeda. Mayoritas orang sibuk membenamkan diri pada bahasan di tingkat kontestasi politik, tentang suksesi. Kemudian membahas pro-kontra ketidakbijakan pemerintah. Makanya banyak tagar seperti #2019GantiPresien, #Jokowi3Periode, dst. Lalu marak juga gerakan demonstrasi dan petisi untuk mengecam ketidakbijakan pemerintah. Bahasan2 ini menjamuri berbagai platform media. Dari kelas cucunguk sampai kelas Gorila semuanya sibuk membahas ini. Pun halnya dengan persatuan ahli agama. Mereka sampai bikin ijtimak ulamak dan menghasilkan pendapat mendukung Prabowo di 2019. Lalu ulama Nahdiyin bikin tandingan dan mendukung Jokowi.

Sedangkan saya, saya lebih banyak membuat ulasan pada poin 2,3,4 (Dji Sam Soe). Tentang ideologi nasionalisme vs Allah-isme. Tentang silogisme Pancasila. Membahas tentang bentuk kekuasaan yang menunjang penerapan ideologi Allah-isme berbanding bentuk kekuasaan penunjang ideologi nasionalisme yang ada saat ini. Hingga membahas pola kekuasaan di dalam kekuasaan yang memfasilitasi ideologi Allah-isme.

Hal tersebut membuat topik2 tentang kontestasi politik maupun policy pemerintah menjadi tidak relevan dengan tulisan2 saya selama ini. Karena jika induknya saja sudah lain, maka turunan turunannyapun akan lain. 

Saya memang kerap kali melontarkan kritik terhadap arus opini. Hal itu saya lakukan sebagai upaya penyeimbang opini, agar yang membaca tulisan saya mulai memetakan kembali kerangka pembicaraannya, bukan sibuk terbawa arus atau melawan arus yang ada.

Bayangkan saja,

Sekelas politisi kawakan hingga ulama2 kesohor juga sibuk membenamkan diri pada bahasan di poin 6 (kontestasi politik, pemilu). Padahal bahasan di poin itu adalah serendah rendahnya bahasan dalam hierarki politik dan poin 7 (policy). Publik digiring untuk hanyut dalam level konflik terendah tanpa mengedukasi tentang 5 poin diatasnya. Akibatnya, hubungan persaudaraan dan persahabatan manusia di satu negara rusak cuma gara2 beda kubu dalam kontestasi politik dan pro-kontra ketidakbijakan pemerintah. Hina sekali bung! Serendah itulah level pembicaraan mayoritas orang.

Dan bagi ulama2 yang menempatkan agama ke level kontestasi politik dan policy lalu menggiring ummat masuk ke dalam pusaran tersebut, bagi saya mereka telah meletakkan harga diri agama sebegitu rendahnya! Padahal mereka memikul kitab, tapi seakan tidak tahu kitab sucinya membahas apa. Seperti pada ayat ini ;

مَثَلُ الَّذِيْنَ حُمِّلُوا التَّوْرٰٮةَ ثُمَّ لَمْ يَحْمِلُوْهَا كَمَثَلِ الْحِمَا رِ يَحْمِلُ اَسْفَا رًا ۗ بِئْسَ مَثَلُ الْقَوْمِ الَّذِيْنَ كَذَّبُوْا بِاٰ يٰتِ اللّٰهِ ۗ وَا للّٰهُ لَا يَهْدِى الْقَوْمَ الظّٰلِمِيْنَ

"Perumpamaan orang-orang yang diberi tugas membawa Taurat, kemudian mereka tidak membawanya (tidak mengamalkannya) adalah seperti keledai yang membawa kitab-kitab yang tebal. Sangat buruk perumpamaan kaum yang mendustakan ayat-ayat Allah. Dan Allah tidak memberi petunjuk kepada orang-orang yang zalim."

(QS. Al-Jumu'ah 62: Ayat 5)

Kalau sudah nyinggung simbol2 agama cem "ulama", kerap kali ada orang yang berkata, "kalau baca Quran tanya ke ustad yang ngerti. Yang jelas sumbernya dari ulama ulama shalih. Jangan bikin interpretasi sendiri!". Saya tanya, apa kita harus bertanya kepada orang-orang yang telah menjadikan kedudukan agama serendah itu? Tujuannya apa? Agar kita meletakkan agama serendah itu juga? 

"Subhanallahi wa ta'ala 'amma yusyrikun" (Maha Suci dan Maha Tinggi Allah dari apa yang mereka persekutukan)...

Itulah kesalahan kita. Menganggap struktur agama itu terdiri dari orang orang yang mengajarkan ilmu agama. Makanya belajar agama mengandalkan testimoni orang lain saja, tanpa punya abstraksi tentang agama tersebut. Lagipula anda tidak perlu khawatir. Liarnya pemikiran saya ini masih ada "pawangnya" kok. Saya masih nurut sama orang2 yang punya wewenang buat ngatur saya.

Jadi semoga anda paham.

Saya tidak pernah "merasa paling benar" dalam segala bentuk opini yang saya lontarkan. Saya hanya membuka bahasan di poin lain dalam hierarki politik, yang biasanya tidak begitu populer dibahas oleh publik mainstream. 

Maka, buatlah kerangka berpikir anda masing masing sebelum anda mengacungkan telunjuk anda untuk menuduh orang lain.

ChikYen...

(Sekian)...

Komentar