G30S/Gestapu/Gestok

A. Terminologi

Perlu kita kelompokkan dulu terminologi antara penggunaan kata "G30S/Gestapu" dengan "Gestok". Supaya anda paham, ketika membaca peristiwa ini berarti Anda sedang membaca narasi siapa. Tidak bias.

Peristiwanya sama, yakni pembunuhan terhadap 6 jendral + 1 perwira Angkatan Darat yang terjadi tanggal 1 Oktober dini hari. Yang membedakan adalah fokus peristiwa yang diangkat.

G30S atau Gestapu (Gerakan September Tiga Puluh) lebih menitik beratkan pada operasi tim Cakrabirawa yang dipimpin Letkol Untung..

Sedangkan penggunaan istilah Gestok (gerakan satu Oktober) menitikberatkan pada operasi militer angkatan Darat membersihkan gerakan tim Cakrabirawa, mencegah terjadinya kudeta oleh PKI

Dua hal ini menjadi rumusan penting untuk membaca narasinya. Karena dibalik narasi, pihak yang membuat opininya juga berbeda

Sederhananya, persepsi terhadap peristiwa 65 ini setidaknya memiliki 2 perspektif yang kesimpulannya bisa berbeda kontras satu sama lain. Jika anda terjebak pada opini, bisa jadi misleading


B. Narasi

Saya pernah membaca buku yang membuat kedua referensi tersebut. Dan memang kita akan melihat perbedaan narasi yang cukup signifikan. Cara membaca situasi yang berseberangan untuk satu peristiwa yang sama.

Istilah G30S dipropagandakan oleh Suharto saat memimpin operasi pembersihan. Suharto menyebut operasi tim Cakrabirawa dengan istilah G30S. Kesimpulannya adalah : PKI positif melakukan kudeta.

Maka terjadi glorifikasi terhadap aksi pembersihan tim Cakrabirawa. Karena AD membersihkan gerakan Kudeta (coup)

Istilah Gestok dipropagandakan oleh Sukarno. Secara timeline, memang peristiwa ini lebih tepat diberi nama Gestok karena peristiwa ini terjadi pada tanggal 1 Oktober dini hari, jika kita hitung dari "peluit" dibunyikan. Penggunaan istilah G30S/Gestapu menurut saya pribadi merupakan penyesatan sejarah. 

Pihak yang menyebut gestok pada umumnya menuliskan narasi bahwa sebetulnya peristiwa 65 merupakan konflik internal antar angkatan Darat. Tidak semua penulis Gestok menyebutkan keterlibatan PKI dalam operasi Cakrabirawa.. Bahkan sebagian menuduh Angkatan Darat memainkan konspirasi...


C. Kebingungan Persepsi

Salah satu tokoh yang dipertanyakan wujudnya adalah Syam Kamaruzzaman.

Dalam draft sidang mahmilub ABRI, terdapat dokumentasi interogasi terhadap tokoh bernama Syam. Syam disinyalir merupakan kader PKI yang disusupkan ke tubuh militer AD untuk membuat propaganda ketimpangan struktur natural dari angkatan Darat.


D. Teori-Teori Seputar Gestapu/Gestok

Ini bermula dari analisa terkait motif penculikan para jendral. Kita perlu tahu apa latar belakang penculikan para jendral. Dari sekian banyak teori yang beredar, saya akan kerucutkan ini menjadi tiga saja.


1. Teori Konspirasi Komunis Internasional (Komintern), Sukarno Terlibat!

Sebetulnya ini berkaitan dengan politik internasional yang diusung Presiden. Saat itu presiden bergabung dengan gerakan Non-Blok, Indonesia keluar dari keanggotaan PBB. Dan Sukarno membentuk Poros Peking, CONEFO (Conference of The New Emerging Forces) bersama dengan negara2 komunis di Asia timur. Bahkan dalam investigasi Ben Anderson, banyak ditemukan jejak koordinasi antara Mao dengan Sukarno dan PKI menjelang kudeta 1 Oktober 1965. Bahkan Cina siap memasok senjata untuk memuluskan cita-cita revolusi proletariat. Di daerah-daerahpun PKI dan Gerwani membina rakyat kaum tani dan buruh melakukan tembak menembak. Ibu2 hamil saja dengan begitu militannya ikut dalam aksi latihan tersebut.

Kala itu, ABRI khususnya Angkatan Darat tidak mendukung kebijakan politik presiden, baik secara ideologi NASAKOM maupun cita-cita revolusi.. Oleh karena itu presiden meminta para jendral Angkatan Darat meletakkan jabatan. Sukarno butuh panglima yang siap mendukung kebijakan politik internasionamnya.. Sayangnya Yani dan para jendral elit AD menolak.. Maka Sukarno dan PKI merencanakan _coup_ (kudeta) untuk membersihkan Dewan Jendral. Dan terjadilah pembantaian kepada 6 orang jendral + 1 orang perwira.


2. Teori Konspirasi CIA, Suharto Dalangnya!

Hal ini berkaitan dengan Politik Freeport dan Perang Dingin (Soviret vs US). Amerika sangat mengkhawatirkan dominasi Komunis Internasional yang mulai mengoyak koyak kaki PBB. Maka mereka butuh proxy untuk menghancurkan Komunis Internasional. Selain itu, Amerika punya kepentingan pada Freeport..

Sukarno sangat membatasi investasi luar negeri. Sukarno tidak ingin kekayaan Indonesia dieksploitasi asing.. Hal ini tidak disukai Amerika. Maka Sukarno harus disingkirkan (kudeta). Dan lihatlah, pasca pergantian kekuasaan oleh Suharto, undang-undang yang pertama kali disahkan oleh presiden Suharto adalah undang undang penanaman modal asing. Sejak itu Freeport berkuasa tanpa batas untuk mengoyak emas di Grasberg, Papua.

Ada tiga hal yang menguatkan teori ini.

Pertama, Suharto menjadi satu-satunya pihak yang diuntungkan setelah peristiwa ini.

Kedua, kenapa bisa Tim Cakrabirawa menyisakan Suharto?

Ketiga, sebelum "peluit" dibunyikan, Letkol Untung bertemu dengan Suharto yang sedang menjaga Tommy yang sedang dirawat di RSPAD Gatot Soebroto. Apa yang mereka lakukan? Koordinasi?

Setelah kejadian ini, terjadi pembantaian terbesar sepanjang sejarah Indonesia merdeka. Pengadilan di Den Haag (Belanda) memasukkan Indonesia ke urutan 2 "wachlist" internasional terkait pelanggaran HAM berat. Diperkirakan telah terjadi pembantaian kepada 500ribu s/d 3juta orang rakyat Indonesia oleh rezim Suharto. Baik kader PKI, kader pendukung Sukarno, maupun sekedar simpatisan revolusi, semua tidak luput dari upaya pembunuhan. ABRI menggunakan tangan rakyat sipil untuk membunuh rakyat yang terindikasi berafiliasi dengan PKI. Pemuda Pancasila, GP Ansor (NU) dan berbagai ormas kepemudaan kala itu disinyalir menjadi kaki tangan ABRI untuk "membersihkan" sisa-sisa PKI di kalangan akar rumput.

Dan keluarga yang punya afiliasi dengan peristiwa 65 kemudian mendapat sanksi sosial, dikucilkan oleh rakyat dengan stigma anak PKI pemberontak, hal2 sipil mereka juga dikebiri oleh rezim.

Bahkan para pelajar yang sedang menimba ilmu di negara2 Soviet dikejar, diminta pulang. Dan setelah itu sebagian besar nasibnya tidak diketahui.

Jika kita menganut perspektif ini, maka kita harus menganut teori Gestok (Gerakan Satu Oktober). Bahwa kisruh 65 merupakan konflik internal AD. Suharto ingin mendapat kekuasaan tertinggi ABRI...


3. Kesalahan Prosedur

Ada teori yang cukup moderat dari konflik 65. Diutarakan oleh Prof Salim Said dalam bukunya, "dari Gestapu sampai Reformasi"... Sebetulnya tidak ada yang jahat diantara ABRI maupun PKI. Ini hanya kesalahan prosedur dari tim pelaksana lapangan. 

"Apa kaubilang? Hanya kesalahan prosedur?" 😨😨

PKI, sebagai partai pendukung pemerintah yang berkonfrontasi terbuka dengan ABRI kala itu, mereka mendesak presiden melakukan pendaulatan, menyingkirkan para petinggi Angkatan Darat dengan paksa... Maka direncanakanlah operasi penculikan... Perlu digarisbawahi, motifnya BUKAN pembunuhan, melainkan penculikan..

PKI, mayoritas mereka hanya orang sipil. Mereka tidak terbiasa menjalankan operasi militer rahasia.. Salahnya, mereka menunjuk Letkol Untung dan Oemar Dani (AU) yang sangat minim pengalaman dalam misi Operasi dan memberlakukan operasi yang menggunakan mekanisme BKO (bawah kendali operasi)..

Pemberi intruksi disinyalir memberikan instruksi tidak jelas dan multitafsir. "Bawa kemari para dewan jendral hidup atau mati".

Yang dimaksudkan adalah bahwa aksi ini super penting, tidak boleh gagal apapun alasannya. Tapi bawahan menangkap, "bawa mereka, entah hidup atau mati"... Dan terjadilah pembantaian sadis lantaran para jendral tidak mau nurut dibawa hidup-hidup..

Miss komunikasi seperti ini dalam kamus ABRI dinamai "Kesalahan Prosedur". Memang eksesnya sangat fatal. Tapi ini tidak bisa digolongkan kedalam kategori kejahatan motif...

...

Peristiwa 65 menjadi salah satu lembaran paling hitam dalam sejarah Indonesia merdeka. Terlalu pahit dendam yang ditinggalkan oleh peristiwa ini, dan entah sampai kapan ekses dari peristiwa ini selesai.

Saking banyaknya pihak yang terlibat, dan sulitnya mendapatkan data yang lengkap dan komperhensif, para sejarawan lokal dan internasional saja tidak pernah bisa satu kata terkait kasus ini. Semua mengembangkan teorinya masing-masing berdasarkan data yang mereka kumpulkan. 

Sekian ulasan saya terkait peristiwa 65 ini. Apakah anda punya pandangan terkait peristiwa ini? 

ChikYen...

(Sekian)...

Komentar