Da'i Pemburu Amplop

Sebulan silam saya menonton sebuah infotainment, Acara TV terkait mendatangi kediaman beberapa da'i kondang kita. Dari yang rumahnya sederhana sampai yang mewah sekali...

Kita tahu, sebagian banyak dari kegiatan dakwah dan tabligh kita dihiasi dengan amplop mengamplop. Beberapa kawanan pendakwah bahkan memiliki manajemen dan memasang tarif tertentu. Tidak perlu sebut merk, kawan2 yang pernah menyelenggarakan event pengajian apalagi dengan kapasitas mustami' yang besar tentu tahu percis bagaimana berurusan dengan manajemen para da'i. Ini sebuah praktek yang lumrah di kita sejak lama hingga sekarang. 

Beberapa pendakwah mengatakan tidak masalah pekerjaan dakwah ini berbayar (profesional). Ibarat para pelajar yang belajar di perguruan tinggi lalu berkarir atau memberikan seminar-seminar dan mendapatkan bayaran, maka pendakwahpun punya hak yang serupa soal bayaran... 

Kalau kiyai besar dari suatu kelompok malah lebih "vulgar" soal tarif ini. Sambil berseloroh ia berujar, "antum yang gelar S.Ag baru bisa ilmu A B C paling dapet amplopnya 2 juta. Yang bisa D E F bisa sampai sepuluh juta." Jamaah tertawa dengan gurauannya tersebut.

Bagi yang sensitif soal ini mungkin merasa tidak nyaman melihat aktivitas seperti ini. Kecewa dengan para da'i kita. Tapi inilah fenomena yang nyata terjadi di tengah-tengah kita.. Anda tidak bisa picingkan mata...

Tapi ada juga da'i yang "garis keras" menentang pertarifan. Ia tidak ingin menerima bayaran. Kalau yang moderat, dia tidak ingin memasang tarif. Tapi kalau dikasih, ya diambil saja. "Ini rezeki dari Allah".

Ya,

Boleh jadi ramainya aktivitas dakwah ini bukan murni karena risalah. Karena amar makruf nahi munkar... Melainkan karena "proyek". Ada peluang "mencari pundi-pundi nafkah"... Jadi sekolah agama tinggi itu bisa jadi membuat niat anda berbelok untuk mencari keuntungan duniawi yang semakin tinggi anda dapatkan... 

Kita tidak berhak menilai apa niat seseorang dalam menyampaikan ajaran agama. Biarlah Allah saja yang menilainya. Perlu anda ketahui, Allah Maha Mengetahui Apa yang tersembunyi di rongga dada anda, sekeras apapun engkau coba menyembunyikannya. Jika engkau mengharap imbalan manusia, engkau akan mendapatkannya. Tapi syurga itu disediakan bagi hamba-hambaNya yang ikhlas.

Bagaimana dengan Rasulullah?

Kalau Rasulullah dan para sahabat, mereka melakukan hal seperti ini soal aktivitas dakwahnya ; "Katakanlah: "Upah apapun yang aku minta kepadamu, maka itu untuk kamu. Upahku hanyalah dari Allah, dan Dia Maha Mengetahui segala sesuatu"..." (34 : 47)

"Upah" Rasul dan para sahabat itu untuk mereka. Siapakah mereka? Ummat! Di surat At-Taubah disebutkan, apa sih yang Rasul ambil dari ummat, "khudz min amwalihim : Shadaqah..." Depag menterjemahkannya menjadi zakat. Zakat itu ada pos-posnya. Ada asnaf2. Ketika Rasul mengambil sedekah/zakat dari ummat, itu memang bukan untuk Rasul. Tapi untuk ummat. Untuk para "asnaf" yang pembagiannya diatur oleh Allah...

Sedangkan bagian untuk Rasul, apa?? Bagian untuk Rasul itu ya dari Allah. Bukan dari harta ummat... Saya kira, Rasul itu berarti tidak menerima amplop dari kegiatan dakwahnya. Tapi ia mengambil darimu sedekah/zakat, yang dipergunakan untuk kemaslahatan ummat. Ya untuk antum juga!

Tidak bermaksud sok tahu apalagi menggurui. Antum yang belajar ilmu agama hingga memiliki gelar ijazah keagamaan, baik S.Ag, Lc. M,Ag dst, pasti lebih paham soal ini. Mungkin kiraan saya diatas ini keliru.

Tapi tidak ada salahnya bagi kawan2ku para asatidz untuk kembali merenungkan. Untuk apa antum sekalian berdakwah... Luruskan niat. Lillahi ta'ala...

Yakinlah, jika niat kita lurus karena Allah, Sesungguhnya Allah maha kaya. Ia akan berikan kita ganjaran berlipat2 kelak...

ChikYen...

(Sekian)...

Komentar